MASYARAKAT kita yang religius, kini lebih banyak hanya bersifat simbolis yang dilanda krisis multidimensi. Resiko salah makan bergeser dari makan apa, makan di mana atau apa yang kita makan, apakah itu lahan yang diadakan alih fungsi atau makan kapal yang kini menjadi menu berita nasional. Bahkan sampai kepada kita akan makan siapa. Masih soal makan, ada makan tangan, makan hati berulam jantung, atau pagar makan tanaman, yang nanti sebagai kaplingnya KPAID.
Tafsir Ibnu Katsir mengatakan, sebagian ulama Salaf menyatakan bahwa Allah telah menghimpun semua tujuan kedokteran dalam Surat Al-A’raf: 31 yaitu ‘’Makan dan minumlah kamu (secukupnya) dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebihan.’’
Makanan yang berlebihan bisa menghasilkan radikal bebas, dengan resiko terjadinya penyakit-penyakit degeneratif yaitu hypertensi, jantung koroner, stroke dan diabetes. Di negara maju, puasa sudah menjadi tren untuk pengobatan terhadap penyakit degeneratif yang mematikan ini. Dengan kita dibuat lapar, berarti keperluan kalori dalam menjalankan fungsi metabolisme dalam tubuh, tak lagi berasal dari asupan makanan kita, tapi dari cadangan kalori yang tersimpan dalam tubuh, apakah berbentuk protein ataupun lemak.
Peristiwa memakan cadangan makanan di dalam tubuh sendiri, kayaknya jeruk makan jeruk ini disebut sebagai glukoneogenesis. Sebagai konsekuensinya adalah tak ada lagi lemak yang menyumbat di pembuluh darah. Sumbatan lemak yang sudah mengeras (sklerotik) di pembuluh darah ini akan menyebabkan berbagai gangguan. Jika di pembuluh darah pada umumnya disebut sebagai hypertensi. Jika tersumbat di pembuluh darah jantung, akan menyebabkan penyakit jantung koroner dengan nyeri dada yang disebut sebagai chest-pain, sedangkan pada pembuluh darah di otak dan akhirnya pecah, disebut dengan stroke. Demikian halnya pada penderita diabetes yang memerlukan pembatasan kalori, maka puasa juga dapat berfungsi sebagai sarana pengobatan yang tangguh. Singkat cerita, puasa adalah pilihan tepat untuk pengobatan penyakit degeneratif, yang artinya suatu tanda kemunduran pada tubuh dan berakhir dengan kematian.
Berpuasa di Bulan Ramadan bukan tanpa makna kalau kita membacanya dengan baik dan diaplikasikan dalam hidup dan kehidupan kita. Kita akan sehat, baik jasmani dan rohani maupun sosial, dan akhirnya kita akan terbiasa pula untuk makan yang sehat, yaitu makanan yang baik lagi halal (Al-Maidah: 88).
Menahan Diri
Para ahli tafsir berpandangan, puasa sudah ada semenjak umat-umat dan agama-agama terdahulu, baik dilakukan agama-agama bumi (ardhi) seperti Sha’ibah, Manawiyah, Brahma dan Budha maupun agama langit (samawi) yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Pada dasarnya, pemaknaan puasa tidak berbeda dengan yang ada sekarang ini, khususnya Islam, namun maksud dan praktiknya saja yang berbeda.
Orang-orang Mesir kuno zaman dahulu sesungguhnya juga telah melakukan puasa sebagai penyembahan kepada Tuhan yang dinamakan Laysis. Demikian juga orang-orang Yunani berpuasa sebagai penyembahan kepada Tuhan ladang yang dinamakan Demeter. Sedangkan orang-orang Roma sering melakukan puasa pada hari-hari tertentu sebagai penyembahan kepada Tuhan Lizfas, yaitu bintang Yupiter dan Tuhan Siyaris Demeter. Sementara orang-orang India sangat berlebihan dalam melakukan puasa, mereka sering berpuasa beberapa hari tanpa makan dan minum. Maksudnya tiada lain, yaitu mengharapkan keridhaan-Nya.
Ibnu Nadim dalam kitabnya Al-Fihrist mengatakan syariat agama Shai’bah yaitu agama yang berdiri atas penyucian bintang-bintang yang mewajibkan mereka berpuasa tiga puluh hari. Berpuasa tiga puluh hari
sebagai penghormatan kepada bulan, berpuasa sembilan hari sebagai penghormatan kepada Tuhan Keberuntungan. Tujuh hari penghormatan bagi Tuhan Matahari. Ritual mereka adalah ungkapan atas pencegahan dari semua makanan dan minuman, dari semenjak terbit matahari hingga terbenamnya.
Manawiyah, agama yang muncul di Iran abad ketiga masehi, memiliki bermacam-macam puasa dan berkaitan dengan waktu-waktu berkala. Misal, apabila planet Sagitarius turun dan bulan menjadi purnama, mereka berpuasa dua hari tanpa berbuka di antara keduanya. Apabila muncul bulan sabit, berpuasa dua hari dan lain sebagainya. Puasa mereka sebagaimana puasa Sha’ibah.
Sedangkan Brahma, yaitu agama yang dianut kebanyakan orang India bahwa syariat agama mewajibkan puasa atas kasta pendeta, yakni awal musim semi dan awal musim gugur. Pada hari pertama dan keempat belas setiap bulan, juga saat terjadinya gerhana matahari. Berbeda dengan puasa yang dilakukan agama Budha yang mewajibkan puasa dari matahari terbit hingga terbenamnya pada empat hari setiap bulan yang dinamakan Alyubuzata, hari pertama, kesembilan, kelima belas dan keduapuluh dua. Seperti diwajibkan pula saat bersemedi dan diharamkan melakukan aktivitas sampai pada mempersiapkan makanan berbuka.
Puasa pada agama Yahudi dan Nasrani sebenarnya tidak termaktub dalam Kitab Taurat maupun Injil yang ada sekarang ini. Kedua kitab itu hanya memuji dan mengagungkan akan hal itu, akan tetapi mereka berpuasa beberapa hari dalam setahun dengan berbagai cara. Puasa Ramadan sebagai kewajiban seorang muslim yang mesti dan mau tidak mau harus dilakukan, kecuali ada sebab lain yang tidak mengharuskan pelaksanaannya. Dengan berpuasa manusia dituntut untuk lebih mengenal dan memahami hakikat dirinya, hakikat sesamanya dan hakikat Penciptanya. Pada akhirnya, manusia akan dapat dan mampu menjunjung tinggi nilai kemanusiaannya dan meraih kemuliaan sebagai sosok yang berkualitas atau Insan kamil. Bulan paling utama di sisi Allah.
Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Saat-saatnya adalah yang paling utama. Ramadan, di bulan engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang dimuliakan.
Di bulan ini, napasmu adalah tasbih, tidurmu adalah ibadah, amalanmu diterima dan doa-doamu diijabah. Mohonlah kepada Allah, Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati yang suci, agar Ia membimbingmu untuk berpuasa dan membaca kitab-Nya. Kenanglah dalam lapar dan hausmu di bulan ini kelaparan dan kehausan di Hari Kiamat kelak.
Bersedekahlah kepada fakir miskin di sekitarmu. Muliakanlah orang-orang yang lebih tua, dan sayangi yang lebih muda, sambungkan tali persaudaraan, peliharalah lidahmu, tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang tidak halal kau pandang dan pendengaranmu dari hal-hal yang tidak layak engkau dengar.
Dari paparan di atas, dapat kita pahami bahwasanya puasa dalam lintasan manusia dan agama merupakan sesuatu yang fitrah dan alamiah baik dalam pandangan agama-agama bumi maupun agama-agama samawi, artinya perintah menahan diri ini berlaku bagi semua ummat dan agama-agama terdahulu, namun tetap yang menjadi primadona adalah tentang makan sebagai simbol dari suatu upaya menahan diri. Kita tak boleh makan berlebihan. Jauhi makan makanan yang haram, terlebih yang bukan hak kita, yaitu memakan milik negara yang notabene adalah milik rakyat, sebagaimana yang kini berjamaah dilakukan oleh para wakil rakyat, baik di pusat maupun di daerah.
Hebohnya, kita juga membaca di media masa bahwa para Caleg di Provinsi Riau dalam proses pemeriksaan kesehatan, baik fisik maupun jiwa sudah bermain curang. Terbaca, dan kesan saya sewaktu menjabat Direktur RS Jiwa saat pemeriksaan kesehatan jiwa pada periode 2004 yang lalu, tak sedikit mereka bukannya ingin memperbaiki nasib rakyat, tapi justru lebih mementingkan diri sendiri. Menjadi anggota dewan yang terhormat dianggap sebagai suatu lapangan kerja, mengubah nasib. Ingat, terperdaya bujukan setan untuk memakan buah khuldi saja, Nabi Adam dibuang dari surga. Bagaimana kalau waktu itu Adam juga mengenal pengkaplingan tanah di bumi untuk alih fungsi lahan, atau adanya suap jual beli kapal dengan indeks harga saham melebihi sebuah khuldi? Semuanya terpulang kepada kita kita ini semua, bagaimana umat dan pemeluk agama itu sendiri untuk menerapkan puasa itu dengan sungguh-sungguh dalam hidup dan kehidupan sehari hari.
Alangkah besarnya karunia Ramadan, karenanya Ramadan hanya diperuntukkan bagi kaum yang betul betul percaya kepada Allah, dan karenanya Muhammad SAW bersabda ‘’Telah datang kapada kamu Ramadan, raja dari segala bulan, maka ucapkanlah Selamat Datang.’’ Marhaban ya Ramadhan bulan yang penuh berkah. Semoga pasca-Ramadan tahun ini akan membuat kita lebih bisa menahan diri dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, beragama, bernegara dan berbangsa yang diridhai-Nya.***
dr H Ekmal Rusdy : mantan Kadiskes Riau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar