Sabtu, 29 November 2008

Bawang Putih Sehatkan Jantung

Getty Images/Steve Bauer
Bawang putih memiliki khasiat mengobati penyakit.
Artikel Terkait:
Darah Haid Bisa Perbaiki Jantung?
Jantungan? Lindungi dengan Telmisartan
Teh Hitam, Cegah Jantungan
Jambu Biji, Cegah Jantungan
Teh Hitam Cegah Sakit Jantung, Kanker dan Diabetes
Selasa, 6 Mei 2008 | 17:30 WIB
BAWANG putih (Allium sativum) bukan saja dikenal sebagai bumbu masak yang melezatkan, namun sejak lama digunakan sebagai ramuan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Ribuan riset juga mengklaim bawang putih mampu mengatasi dan mencegah beragam penyakit mulai dari kanker hingga pembuluh darah dan jantung. Walau begitu, tak sedikit pula yang menyatakan bahwa khasiat bawang putih belum signifikan khusunya dalam mencegah dan mengobati penyakit-penyakit degeneratif tersebut.

Sebuah riset di Los Angeles Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengungkap bukti baru yang mendukung manfaat bawang putih bagi kesehatan pembuluh darah. Ektrak bawang putih dalam bentuk pil diyakini memiliki potensi besar mencegah terjadinya ateroskeloris atau penebalan jaringan dinding pembuluh darah.

Professor Matthew Budoff MD dan Naser Ahmadi MD dari Los Angeles Biomedical Research Institute di Harbor-UCLA Medical Center, yang menyimpulkan melalui hasil riset pendahuluan bahwa ekstrak bawang yang dikombinasi dengan vitamin B-12, asam folat, vitamin B-6 dan L-arginine mampu menghambat terjadinya aterosklerosis.

Pada risetnya, Budoff melibatkan 65 partisipan berusia rata-rata 60 tahun dan memiliki risiko cukup besar mengidap penyakit jantung. Partisipan dibagi dua kelompok yakni yang mengonsumi pil berisi ekstrak bawang putih plus vitamin, sedangkan sekelompok lainnya diberi kapsul berisi plasebo.

Partisipan dipantau selama setahun dan pada akhir riset tercatat 58 partisipan masih bertahan. Secara rutin setiap bulan, partisipan harus diperiksa kadar kolesterol dan unsur darah lainnya. Mereka juga harus melakukan scan jantung pada awal dan akhir penelitian.

Dari riset terungkap, perkembangan aterosklerosis tampak tidak pesat pada mereka yang mengonsumsi pil bawang putih dibandingkan yang meminum plasebo. Menurut peneliti, temuan itu tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, derajat keparahan aterosklerosis pada awal studi, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol dan pengobatan diabetes.

Budoff dan timnya tidak menjelaskan kandungan apa yang sebenarnya memberikan pengaruh terbesar bagi perlambatan aterosklerosis. Namun begitu, ektrak bawang putih diyakini memberikan manfaat utama menurunkan kadar homosistein, asam amino yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Budoff mengharap penelitian ini akan berlanjut untuk mengungkap potensi bawang putih plus vitamin dalam memperlambat kalsifikasi pembuluh darafh jantung. Hasil penelitian Budoff ini dipresentasikan pada American Heart Association's 2008 Quality of Care and Outcomes Research in Cardiovascular Disease and Stroke Conference.

The study was funded by Wakunaga of America, which makes the garlic pill used in the study. Budoff had full control over the study.


AC
Sumber : WebMD

Chitosan, Limbah Kulit Udang untuk Diabetes dan Hipertensi


nasir/ kompasKamis, 10 Januari 2008 | 23:13 WIB
Jangan sia-siakan limbah kulit udang dan kepiting. Ekstrak zat kerak yang lebih populer dengan nama chitosan ini mampu mengatasi tekanan darah tinggi, diabetes, hati, kanker, dan gangguan organ tubuh. Terakhir chitosan diyakini bisa sebagai bahan pengawet makanan, seperti formalin.

Sri Haryati (65) sudah lama mengalami gangguan tekanan darah tinggi. Seperti dituturkan ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Blok A, Jakarta Selatan ini, setahun lalu, tekanan darahnya sampai di atas 200 mmHg, paling rendah 140.

Oleh dokter yang memeriksanya, Sri dianjurkan mengonsumsi obat antihipertensi. Selain itu, ia diharuskan banyak istirahat dan dilarang mengemudikan mobil.

Bosan minum obat kimia, pengobatan alternatif menjadi pilihan Sri. Untunglah dia bertemu Sinse Harry, akupunturis dan herbalis yang berpraktik di bilangan Pluit, Jakarta Utara.

Sri dianjurkan mengonsumsi ekstrak zat kerak udang atau kepiting, yang biasa disebut chitosan. Sebulan kemudian, tekanan darahnya turun menjadi 120/90 mmHg. Kini, ia mengaku tekanan darahnya stabil di angka 120/80.

Pengalaman lain, Karyati (34) sempat mempunyai berat badan hingga 70 kg dengan tinggi badan 157 cm. Kondisi tersebut membuat karyawati perusahaan telekomunikasi ini kurang percaya diri. Beberapa terapi dilakoni, yakni ikut klub senam kebugaran dan minum teh pelangsing.

Berat badannya memang turun menjadi 60 kg, tetapi kepalanya jadi sering pusing dan keseimbangannya terganggu. “Kalau sedang berjalan, badan terasa melayang. Begitu juga bila mau berdiri selepas duduk,” tuturnya.

Atas anjuran Dr. Setiawan, Ph.D, dokter sekaligus herbalis, Karyati mengonsumsi kapsul chitosan. Setelah dua bulan, berat badannya turun menjadi 50 kg.
Lainnya, Hendra Mustofa (28) menderita sakit maag sejak duduk di bangku SMA.

Ketika kuliah, ia sering tak sadarkan diri karena derita maag yang tak tertahankan. Beberapa pengobatan telah dilakoni, sayangnya belum ada yang membuahkan hasil.

Atas saran kerabatnya, ia mengonsumsi ramuan chitosan. Hasilnya, ia tak lagi mengalami sakit maag. Bahkan, ia sudah berani mengasup makanan pedas, meski cuma sesekali.

Kulit Keras
Chitosan pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Perancis, Ojier, pada tahun 1823. Ojier meneliti chitosan hasil ekstrak kerak binatang berkulit keras, seperti udang, kepiting, dan serangga.

Dijelaskan DR. Ir. Linawati Hardjito, Ketua Departemen Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, chitosan merupakan produk turunan dari polymer chitin, yakni produk limbah dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan. Limbah kepala udang mencapai 35-50 persen dari total berat udang.

Proses pembuatan chitosan, menurut Dr. Setiawan, pertama-tama kulit udang atau kepiting dicuci dengan larutan alkali encer untuk menghilangkan protein (deproteinisasi). Selanjutnya bahan dicuci dengan larutan asam hidroklorik encer untuk menghilangkan kerak kapur (demineralisasi). Proses deproteinisasi dan demineralisasi usai, yang tersisa adalah zat kerak (crust).

“Dalam zat kerak terdapat unsur butylosar yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Zat kerak tak larut dalam asam maupun basa, dan sulit diserap oleh tubuh manusia,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan unsur butylosar secara utuh, dokter yang berpraktik di daerah Pluit, Jakarta Utara ini menguraikan prosesnya. Pertama kali, zat kerak dimasukkan ke dalam larutan alkali pekat. Selanjutnya, dipanaskan dalam suhu 80-120 derajat Celsius untuk melepaskan asetil.

Butylosar yang telah didapatkan itu hanya larut dalam asam encer dan cairan tubuh manusia. Dengan demikian, butylosar dapat diserap oleh tubuh.

Kerak yang telah dilepaskan asetilnya merupakan zat murni, tinggi sifat basanya, serta mengandung banyak molekul glukosa. Zat itu merupakan satu-satunya selulosa yang dapat dimakan.

Ditambahkan DR. Linawati, zat ini mempunyai muatan positif yang kuat, dan dapat mengikat muatan negatif dari senyawa lain. Selain itu, zat ini mudah mengalami degradasi secara biologis dan tidak beracun.

Pengganti Formalin
Lebih lanjut, Dr. Setiawan menguraikan khasiat butylosar, yakni meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker. Dalam sebuah riset antitumor, katanya, butylosar mempunyai daya penekan terhadap penyebaran sel tumor sekaligus merangsang kemampuan kekebalan tubuh serta mendorong tumbuhnya sel T limpa dari pankreas.

“Bahaya kanker terletak pada kemungkinan peralihannya. Kemampuan zat butylosar dalam menekan sifat peralihan sudah diakui oleh ilmuwan biologi di berbagai negara melalui cara yang berbeda-beda. Selain itu, dalam pemakaiannya terhadap pasien memperlihatkan keberhasilan yang cukup tinggi,” kata Dr. Setiawan.

Butylosar mempunyai kemampuan menempel pada molekul sel di permukaan bagian dalam pembuluh darah. Kondisi ini mencegah sel tumor menempel pada sel permukaan pembuluh darah, artinya mencegah perembesan jaringan kanker ke daerah sekitar.

Butylosar dapat juga mengurangi penyerapan tubuh terhadap ion-ion klor. Zat ini meningkatkan fungsi pembesaran pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah.

Sejak tahun 2004, menurut DR. Linawati, Departemen THP telah melakukan uji aplikasi zat kerak pada beberapa produk ikan asin, seperti jambal roti, teri, dan cumi. Dalam berbagai konsentrasi, chitosan dilarutkan dalam asam asetat, kemudian ikan asin yang akan diawetkan dicelupkan beberapa saat dan ditiriskan.

Hasilnya, pada konsentrasi 1,5 persen saja penggunaan chitosan dapat menyamai pemakaian formalin yang merupakan bahan berbahaya. Indikasinya, lalat yang hinggap lebih sedikit, penampakannya lebih baik daripada ikan asin kontrol (tanpa formalin dan chitosan) maupun ikan asin dengan formalin.

Pemakaian chitosan sebagai bahan pengawet juga tidak menimbulkan perubahan warna dan aroma. Setengah berpromosi, DR. Linawati membandingkan segi ekonomis penggunaan chitosan dibanding formalin. Untuk 100 kg ikan asin diperlukan satu liter chitosan seharga Rp 12.000, sedangkan formalin Rp 16.000.

Dr. Setiawan menambahkan, untuk pengobatan, dosis yang dianjurkan 2 x 2 kapsul per hari diminum dengan air hangat. Bila diminum bersama produk lain, beri jarak waktu 1 jam karena sifatnya yang mengikat. Ia mengingatkan, chitosan tidak dianjurkan dikonsumsi oleh anak-anak


TOK
Sumber : GHS

Jantungan? Lindungi dengan Telmisartan


Artikel Terkait:
Menopause Berseri dengan Drospirenone dan Estradiol
Chitosan, Limbah Kulit Udang untuk Diabetes dan Hipertensi
Rabu, 9 April 2008 | 19:17 WIB
TELMISARTAN, obat antihipertensi golongan angiotensin II Receptor Blocker (ARB) moderen, memberi perlindungan setara dengan Ramipril yang merupakan standar emas pengobatan hipertensi. Obat ini juga dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, myocardial infarction, stroke serta mengurangi jangka waktu perawatan di rumah sakit karena gagal jantung.

Penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian dan kecacatan nomor satu secara global, kata Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia dr Arieska Ann Soenarta SpJP(K), dalam diskusi bertema Waspadai Hipertensi dan Penyakit Penyertanya sebagai Ancaman Kematian Terbesar di Dunia , Rabu (9/4), di Hotel Mulia, Jakarta.

Penyakit kardiovaskular adalah istilah bagi serangkaian gangguan yang menyerang jantung dan pembuluh darah, termasuk penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, nyeri dada, kerusakan sementara pada penglihatan. Definisi kardiovaskular juga mencakup penyakit lain seperti kerusakan jantung akibat demam reumatik, penyakit jantung bawaan.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dari sekitar 10 juta orang di dunia yang selamat dari stroke setiap tahunnya, lebih dari 5 juta di antaranya cacat permanen sehingga jadi beban keluarga dan masyarakat. Stroke mayor dianggap oleh separuh populasi berisiko sebagai hal yang lebih buruk dibanding kematian.

Penyebab utama penyakit kardiovaskular adalah sekitar 75 persen penderitanya di seluruh dunia disebabkan faktor risiko konvensional termasuk obesitas, kurang aktivitas fisik dan penggunaan tembakau. Di negara maju, setidaknya sepertiga penderita penyakit kardiovaskular disebabkan lima faktor risiko yaitu tembakau, alkohol, tekanan darah tinggi atau hipertensi, kolesterol dan obesitas.

Baru-baru ini studi ONTARGET (Ongoing Telmisartan Alone and in combination with Ramipril Global Endpoint Trial) yang melibatkan 25.620 pasien dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmuwan Tahunan ke-57 Perhimpunan Ahli Kardiologi Amerika, Amerika Serikat. Hasil studi itu membuktikan, Telmisartan memberi perlindungan setara dengan Ramipril.

Perlindungan terhadap episode kardiovaskular pada pasien yang menerima Telmisartan sebesar 16,66 persen, sedangkan pasien yang menerima Ramipril 16,46 persen. Risiko relatif (angka perbandingan probabilitas episode yang terjadi pada kelompok Telmisartan dibandingkan kelompok Ramipril) sebesar 1,01 dengan 95 persen Cl dari 0.9 4-1.09.

Pada tahun 2000, studi HOPE menunjukkan, risiko kardiovaskular pada pasien yang diobati dengan Ramipril menurun sekitar 20 persen dibandingkan placebo. Ini berarti bahwa episode serius kardiovaskular dapat dicegah. Efek yang setara juga terjadi pada penggunaan Telmisartan. Dalam stu di itu, semua respon yang berisiko tinggi menerima pengobatan standar seperti statin untuk menurunkan kolesterol, terapi anti-platelet, betablocker dan obat antihipertensi lain.








Evy Rachmawati
Sumber : KOMPAS

Rosella, Halau Hipertensi Sekuat Captopril


Getty Images
Bunga hibiscus mengandung zat besi, vitamin A dan C, kalsium, serta serat
Artikel Terkait:
Petani Lahan Pasir Mulai Lirik Rosella
Jantungan? Lindungi dengan Telmisartan
Menopause Berseri dengan Drospirenone dan Estradiol
Chitosan, Limbah Kulit Udang untuk Diabetes dan Hipertensi
Hibiscus, Bikin Cantik dan Bugar
Selasa, 22 April 2008 | 18:17 WIB
MENURUT data dari National Heart, Lung and Blood Association, hampir sepertiga warga negara Amerika menderita hipertensi. Hipertensi terjadi seperti sebuah selang kecil tipis berisi terlalu banyak air yang menekan. Bila terus menerus menekan, selang akan bocor dan selang bisa jadi bakal pecah.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada pembuluh darah. Tekanan yang begitu kerap atau intens bakal membahayakan organ-organ lain seperti ginjal, jantung menimbulkan masalah sehingga muncul stroke, kebutaan, dan lain-lainnya.

Untuk mengontrol hipertensi, dokter biasanya merekomendasikan perubahan gaya hidup—olahraga, rileksasi, menghidari asupan garam—ditambah pengobatan. Selanjutnya, teh hibiscus bisa jadi tambahan terapi.

Tampaknya hibiscus atau yang kerap kita kenal sebagai bunga sepatu mampu menurunkan tekanan darah. sama seperti obat penurun tekanan darah, bunga berwarna merah juga kuning ini dikatakan dapat membuka pembuluh darah lebih lebar, menurunkan kekentalan darah dan meningkatkan produksi urin sehingga dapat mengurangi volum darah.

Teh hibiscus dibuat dari bunga Hibiscus sabdariffa, kadang-kadang disebut Rosella atau Karkade. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Phytomedicine tahun 2004, para pasien minum setiap hari 10 gram bunga kering yang diseduh.

Hasilnya menunjukkan bahwa teh ini dapat mengontrol hipertensi jenis ringan maupun sedang seefektif Captopril, obat yang biasa digunakan untuk mengatasi hipertensi dan gagal jantung.

Hibiscus juga dikatakan bekerja cepat. Journal of Ethnopharmacology melaporkan bahwa setelah 12 hari, 31 pasien yang mengonsumsi teh Hibiscus rata-rata mengalami penurunan tekanan darah hingga 11,2 persen untuk tekanan sistolik dan 10,7 persen untuk tekanan diastolik.

Normalnya, tekanan sistolik 120 dan diastolik 80, artinya teh hibiscus dapat menurunkan tekanan darah hingga kondisi normal selama kurang lebih tidak sampai dua minggu. Bagaimana para penderita hipertensi sebaiknya menggunakan herba ini?

Ellen Kamhi, Ph.D, RN dan kawan penulis dari The Natural Medicine Chest (Evans & Co.,2000) merekomendasikan agar memberitahukan penggunaan herba ini kepada dokter sementara Anda menggunakan obat atau meninggalkan obat ini sambil mengecek tekanan darah setiap hari.

“Rasio dan risiko penggunaan herba dalam hal ini tentu saja lebih aman dan lebih baik dibanding obat. Karena itu cobalah untuk menggunakannya,” ujar Ellen.


ABD
Sumber : Alternative Medicine

Hipertensi, Waspadailah!

Artikel Terkait:
Rosella, Halau Hipertensi Sekuat Captopril
Jantungan? Lindungi dengan Telmisartan
Menopause Berseri dengan Drospirenone dan Estradiol
Chitosan, Limbah Kulit Udang untuk Diabetes dan Hipertensi
Sabtu, 26 April 2008 | 08:19 WIB
HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi saat ini merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat. Tak jarang para penderitanya tidak menyadarinya karena penyakit ini tidak mempunyai gejala khusus dan datang tibat-tiba. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi berisiko besar membuat penderitanya meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, jantung atau gagal ginjal.

Tingginya angka epidemologi hipertensi di dunia, telah mendorong dilakukannya berbagai penelitian yang bertujuan untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit ini. Penelitian tersebut tidak saja ditujukan untuk mengontrol tekanan darah, tapi juga untuk melindungi organ-organ vital dari kerusakan akibat hipertensi.

Termasuk hasil studi ONTARGET (Ongoing Telmisartan Alone and in combination with Ramipril Global Endpoint Trial). Studi ini melakukan pengujian klinis bersifat acak, double- blind yang mengevaluasi lebih dari 25.260 pasien yang berisiko tinggi terhadap kardiovaskular. ONTARGET bukanlah studi hipertensi, karena pasien dengan tekanan darah >160/100 mmHg tidak diikut sertakan, namun mengikutsertakan pasien dengan tekanan darah normal dan terkontrol.

Studi yang telah dievaluasi oleh Boehringer Ingelheim yang dilakukan di sembilan negara Asia, China, Taiwan, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, India, Jepang dan Korea pada 2001, telah dilaporkan hasilnya pada 31 Maret 2008. Membuktikan, jika Telmisartan, merupakan obat anti hipertensi golongan Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) modern. Yang bisa memberikan perlindungan setara dengan ramipril yang merupakan golden standar pengobatan hipertensi. Dan Telmisartan dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovakular.

dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), selaku Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia mengatakan, jika penyakit kardiovaskular merupakan suatu terminologi untuk gangguan yang menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Yang bisa mengakibatkan serangan jantung, stroke, nyeri dada (angina), kerusakan sementara pada penglihatan, kemampuan berbicara, sensasi gerakan (mini stroke atau transient ischemic attack). Hingga morbiditas atau kejang lengan dan kaki (caludication) , dan penyakit ini menyebabkan kematian atau kecacatan dalam hitungan detik.

"Setiap dua detik, satu orang meninggal karena penyakit kardiovaskular, " ujar dr. Ann-panggilan akrabnya, saat memberikan penjelasan tentang pentingnya studi ONTARGET, di Hotel Mulia, Jakarta.

Dokter yang juga menjadi ahli jantung di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta ini menuturkan, jika kardiovaskular penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Sekitar 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskular pada tahun 2005. Diantara 17,5 juta ini tercatat 7,6 juta karena penyakit jantung koroner dan 5,7 juta karena stroke. Dan hipertensi merupakan faktor risiko yang paling banyak menyebabkan morbiditas dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Faktor yang dapat dikendalikan untuk kardiovaskular :
- Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah
- Hipertensi
- Diabetes Militus
- Obesitas
- Gaya hidup ; kurang gerak, merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan

Faktor yang tidak dapat dikendalikan :
- Usia
- Jenis kelamin
- Riwayat penyakit kardivaskular pada keluarga


Katharina Siswi w
Sumber : Persda Network

Teh Hijau Bantu Kesehatan Jantung


TPGIMAGES/TOP01180734
Ilustrasi: Minum teh hijau
/
Artikel Terkait:
Penghancur Lemak Alami
Teh Hijau Lindungi Otak dari Kekurangan Oksigen
Dolar Minyak, Teh Hijau dan Karaoke
Lima Tersehat untuk Kulit
Minggu, 6 Juli 2008 | 17:59 WIB
JIKA nanti Anda ditawari pilihan antara Earl Grey atau teh hijau, Anda mungkin akan memilih the hijau.

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa teh hijau, yang lebih populer di budaya Timur, dapat melindungi pembuluh nadi dengan menjaga mereka tetap seimbang dan rileks, dan maka dari itu dapat menahan perubahan naik-turun pada tekanan darah.

Dipimpin oleh Dr. Nikolaos Alexopoulos dari Athens Medical School di Yunani, sejumlah peneliti menemukan, di antara 14 orang, mereka yang minum teh hijau menunjukkan pembesaran pembuluh nadi pada hati mereka 30 menit lebih lama daripada mereka yang minum kopi atau air panas. Ini karena, para ahli berspekulasi, teh hijau bekerja di dalam saluran pembuluh darah, membantu sel-sel mengeluarkan zat-za t yang dibutuhkan untuk menenangkan pembuluh nadi dan membuat aliran darah lebih lancar.

Bagian yang membantu tersebut adalah flavonoids, yang bekerja sebagai antioksidan, dan membantu mencegah pembengkakan pada jaringan tubuh. Zat-zat ini juga mencegah terjadinya pembentukkan gumpalan darah, yang menjadi penyebab utama serangan jantung. "Kami menemukan bahwa setelah minum teh hijau, terdapat efek perlindungan pada endothelium, pada seorang ahli jantung," kata dr Charalambos Vlachopoulos, yang juga penulis penelitian itu.

Ini semua disebabkan oleh enam gram the hijau. Untuk menyakinkan bahwa efek pembesaran tersebut tidak disebabkan oleh kafein yang juga terdapat pada teh, peneliti membandingkan besar pembuluh nadi pada orang yang minum teh hijau dengan mereka yang minum minuman berkafein. Ternyata para ahli tidak menemukan perubahan pembesaran pembuluh darah pada orang yang minum minuman berkafein.

Yang lebih mengejutkan, efek yang menguntungkan ini dapat bertahan lama dan bersifat akumulatif. Ketika para peneliti mengukur besarnya pembuluh nadi orang yang minum teh hijau setiap hari selama dua minggu, mereka menemukan pembuluh nadi lebih besar. "Ini harus diselidiki lebih lanjut, namun kami berpikir bahwa orang yang minum teh hijau selama satu sampai dua bulan, efek menguntungkannya akan semakin besar," kata Vlachopoulos.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa satu penelitian saja tidak cukup. dr Robert Eckel, profesor di Universitas Colorado, Denver, dan mantan presiden Asosiasi Jantung Amerika, mengatakan fungsi endothelial dipengaruhi beberapa faktor, termasuk dosis vitamin E dan C dalam jumlah besar. "Konsumsi the hijau mungkin akan memberikan efek yang menguntungkan pada pembuluh nadi, namun kita harus berhenti berpikir bahwa ini adalah rekomendasi bahwa setiap orang harus minum teh hijau seolah ini sudah terbukti mengurangi serangan jantung dan stroke," katanya.

Namun, ia mengakui penelitian awal ini mengisyaratkan bahwa the hijau mungkin baik untuk diet jantung yang sehat. Sampai saat ini, Asosiasi Jantung Amerika belum memasukkan minuman dalam rekomendasi diet mereka, namun penelitian seperti ini mungkin akan mengubahnya. Setidaknya, jika Anda sekarang minum the hijau, Anda tahu bahwa itu bukanlah suatu ide yang buruk.(Time/C9-08